Sabtu, 21 Maret 2009

Meredam Kekerasan Dengan Cinta


Meredam Kekerasan Dengan Cinta
Oleh :
Frofidierman Sonik Purba

Ditengah-tengah perjuangan bangsa untuk keluar dari keterbelakangan dan keterburukan, bangsa ini kembali harus diperhadapkan pada permasalahan sosial yang baru yakni maraknya kekerasan yang terjadi di masyarakat. Pelaku kekerasan yang terjadi tidak mengenal usia. Ada yang terjadi dikalangan orang tua seperti kekerasan dalam rumah tangga( KDRT) maupun dikalangan anak-anak seperti terjadinya tawuran antar sekolah yang seakan-akan anak bangsa tidak lagi memiliki moral.
Permasalahan kemiskinan yang semakin memprihatinkan sebagai konsekunsi logis dampak krisis global dapat menjadi salah satu akar dari makin maraknya kekerasan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Angka Pengangguran yang dari hari ke hari berkembang secara signifikan menyebabkan masyarakat akan mengambil jalan pintas yakni dengan kekerasan untuk mempereoleh sesuap nasi. Belum lagi karena diskriminasi kelas antara si kaya dan si miskin menyebabkan terjadinya kecemburuan sosial sehingga menstimulus terciptanya aksi kekerasan.
Apapun akar dari permasalahan kekerasan itu, satu hal yang pasti hendaknyalah nilai-nilai moralitas harus kita junjung tinggi. Kita harus mampu dan mau untuk belajar mencintai sesama kita. Kalau kita pada posisi yang kaya secara materi hendaknyalah jangan sombong dan bersedia membantu orang yang miskin secara materi keluar dari kemiskinan misalnya melalui bantuan dana untuk membuka usaha. Ibaratnya kalau kita memiliki dua buah baju hendaknyalah kita memberikan satu kepada yang tidak memiliki baju. Disamping itu kalau kita berada pada posisi miskin secara materi hendaknyalah budaya iri hati terhadap orang yang kaya secara materi harus kita singkirkan jauh dari sanubari kita dengan berusaha untuk bangkit dan bekerja keras dalam melawan kemiskinan. Andrie Wongso, motivator No.1 di Indonesia pernah berkata sukses dan kaya secara materi adalah hak siapa saja bagi orang yang mau berusaha keras untuk mewujudkannya.
Sudah saatnya aksi kekerasan yang mulai membudaya ini kita berantas secara bersama-sama. Salah satu factor yang sangat berperan adalah keluarga yang harus mengajarkan sejak dini nilai-nilai moralitas sehingga generasi tua maupun generasi muda dapat belajar mencintai sesama manusia. Disamping itu pemerintah melalui lembaga pendidikan dan lembaga keagamaan harus mampu mengajarkan pendidikan akhlak maupun moral kepada masyarakatnya. Alangkah ironisnya apabila bangsa yang dikenal religius ini ternyata aksi kekerasan marak terjadi. Oleh karena itu mari kita hancurkan budaya kekerasan dengan menaburkan benih-benih cinta diantara sesama kita. Jadi selamat mencintai sesama manusia.

Senin, 09 Maret 2009

Benarkah Suara Rakyat Adalah Suara Tuhan ?


Benarkah Suara Rakyat Adalah Suara Tuhan ?
Oleh :
Frofidierman Sonik Purba

Tulisan ini ini terinspirasi ketika penulis membaca salah satu slogan tentang pemilu yang mengajak masyarakat agar tidak golput pada pemilu 9 April 2009 nanti. Slogan itu juga mengatakan suara rakyat adalah suara Tuhan.
Satu sisi pesan moral yang disampaikan melalui slogan pemilu tersebut ada benarnya karena menyadarkan dan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pemilu 9 April 2009 yang akan kita rayakan nanti dengan harapan angka golput dapat diminimalisir. Sebaliknya ketika suara rakyat telah mengantarkan para elit politik untuk duduk sebagai wakil rakyat maupun pemimpin bangsa tetapi suara rakyat dikebiri untuk kepentingan pribadi maupun kelompok bukankah slogan yang menyatakan suara rakyat adalah suara Tuhan patut dipertanyakan?. Alangkah terkutuknya apabila para elit politik yang bertarung pada pemilu 2009 ini berani memperjualbelikan suara Tuhan (money politic) ketika mengkampanyekan dirinya dan setelah menjabat, suara Tuhan tersebut diganti dengan perbuatan korupsi yang menyebabkan rakyat semakin menderita kemiskinan. Bukankah suara Tuhan menginginkan para elit politik untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan rakyat?. Bukankah suara Tuhan yang dimanifestasikan dalam hak-hak konstitusi rakyat dalam UUD 1945 mengatakan hak rakyat jelata dan hak para elit politik sama derajatnya di bumi pertiwi yang kita cintai ini yakni hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan beradab ?. Bukankah ketika para elit politik melakukan kampanye dengan mengumbar janji manis tetapi setelah terpilih malah melakukan pembohongan publik dapat dikatakan kejahatan liar biasa layaknya seorang teroris karena sama-sama merugikan masyarakat ?. Disinilah diperlukan intropeksi diri para elit politik untuk berkaca pada dirinya sendiri seraya merenungkan apakah ketika dia memutuskan untuk mencalonkan diri baik sebagai calon legislative maupun calon presiden / calon wakil presiden telah siap mengemban suara rakyat yang juga dinamakan suara Tuhan ini.
Tahun 2009 ini adalah momentum yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan karena bangsa ini akan melangsungkan pesta demokrasi yakni pemilihan umum (Pemilu) legislatif baik dari tingkat daerah sampai tingkat pusat dan pemilihan presiden/wakil presiden (pilpres/pilwapres). Siapapun yang akan terpilih dalam rentetan proses politik tersebut akan mempengaruhi perjalanan bangsa ini untuk lima tahun kedepan. Kita tentunya tidak mengharapkan para elit politik yang selama kampanye menjelma sebagai “pendekar rakyat” dengan mengumbar janji-janji manis untuk memperjuangkan penderitaan rakyat akhirnya setelah terpilih berubah menjadi “pengisap hak dan kehormatan rakyat”. Rangkaian kata-kata yang dijual para elit politik dalam kampanyenya begitu indah didengar ibarat angin sorga yang akan memberikan setitik harapan ditengah-tengah permasalahan bangsa yang semakin memprihatinkan. Ada yang berani menawarkan pendidikan gratis, pelayanan kesehatan gratis, jaminan sosial gratis sehingga setelah terpilih yang ada hanya harga diri dan moralitas gratis artinya keadilan dan hak rakyat susah didapat sehingga harga diri dan moralitas tidak lagi berharga. Belum lagi persoalan money politik yang dihalalkan demi meraih kekuasaan sehingga akan berpotensi menciptakan korupsi ketika terpilih. Kita lihat bagaimana para elit politik menjelma sebagai “dermawan dadakan” dengan membagi-bagikan uangnya kepada para konstituen baik mengatasnamakan organisasi maupun pihak yang diklaim dapat mengusahakan lumbung suara (tim sukses dadakan) kepada si calon dimana dibalik “kedermawanannya” ada kepentingan politik dibaliknya. Konsekuensinya ketika para elit politik yang terpilih mulai menjabat maka yang akan dipikirkannya adalah dua tahun pertama memulangkan dana yang telah habis selama kampanye melalui korupsi, tahun ketiga memperkaya diri dan dua tahun jabatan terakhir menyimpan dana kampanye yang akan digunakan untuk membeli suara rakyat pada pemilu berikutnya. Ibaratnya proses demokrasi ini seperti sebuah perusahaan politik yang melakukan investasi politik kerakyat untuk mendapatkan untung pribadi dari permainan politik sehingga kepentingan rakyat hanya sebatas komoditas politik belaka.
Setelah merenungkan pesan moral yang disampaikan dalam slogan pemilu tersebut, penulis berharap agar siapapun para elit politik yang membaca slogan pemilu ini dapat terusik hatinya agar benar-benar tulus dan ikhlas dalam memperjuangkan nasib rakyat yang hari ke hari semakin memprihatinkan. Jabatan politik yang diraih hendaknya tidak dijadikan alat maupun profesi pekerjaan belaka untuk memperkaya diri maupun kelompok tertentu tetapi lebih kepada persoalan bagaimana kepentingan rakyat harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan karena apapun perbuatan yang kita lakukan pertanggungjawabannya adalah di akhirat nanti.
Politik Kualitas Menuju Kemajuan Bangsa
Dengan adanya UU Pemilu yang baru dan diperkuat dengan putusann Mahkamah Konstitusi tentang penerapan suara terbanyak dalam pemilihan legislatif dan batas 2O% kursi partai di DPR dan 25% suara partai secara nasional bagi pencalonan presiden dan wakil presiden oleh suatu partai maupun koalisi partai maka konstlasi politik daerah maupun nasional semakin memanas. Pada model demokrasi diera kekinian, tidak lagi cost politik (ongkos politik) yang menjadi tolak ukur tetapi kedekatan para elit politik yang maju sebagai kandidat dan partai yang mengusungnya terhadap konstituennyalah akan menjadi alternative utama dalam meraih simpati rakyat. Jadi, para kandidat yang bahkan sebelum perhelatan kampanye dilakukan telah melakukan pendekatan ke rakyat melalui aksi-aksi sosial yang riil akan lebih dikenal masyarakat dibandingkan para kandidat yang mengandalkan tebar pesona gambar. Kalau kita melihat pada pemilihan legislatif tahun 2004 lalu, persoalan nomor urut menjadi jualan partai yang sangat menggiurkan karena nomor urut memang berperan penting untuk menentukan siapa yang duduk sebagai calon legislator. Bayangkan saja untuk mendapatkan nomor urut jadi si calon harus mengeluarkan ratusan juta rupiah bahkan miliaran rupiah. Alhasilnya, partai tidak lagi melihat mutu kandidat sehingga tanpa kita pungkiri rakyatlah yang tetap menjadi korban dari permainan politik kotor ini.
Dengan dikeluarkannya regulasi baru tentang pelaksanaan pemilu maka kompetisi atau persaingan yang ketat antar calon maupun partai akan menghiasi peta perpolitikan tanah air. Bisa saja kandidat yang bernomor urut 10 akan mengalahkan kandidat bernomor 1 sehingga para kandidat yang selama ini memiliki nomor urut jadi tidak bisa lagi berpangku tangan dan menunggu mukjizat tetapi harus ekstra kerja keras dalam meraih simpati rakyat
Penulis berharap kepada masyarakat Indonesia agar bijaksana dalam menentukan pilihannya. Kita lihat bagaimana para elit politik baik yang sudah lama berkecimpung dalam dunia politik maupun para elit politik dadakan berbondong-bondong mencalonkan diri sebagai calon legislator baik dari tingkat daerah sampai tingkat pusat dan sudah sepantasnyalah permasalahan kualitas figur harus kita kedepankan karena sangat berpengaruh dalam membawa bangsa ini keluar dari keterbelakangan dan keterburukan khususnya dalam memajukan masyarakat Indonesia. Kita tentunya tidak menginginkan para kandidat yang maju dalam pemilu nanti tidak mengerti tentang permasalahan kebangsaan tetapi harus mempunyai politik will maupun kemauan dalam membangun negeri ini. Disinilah diperlukan kebijaksanaan masyarakat sebagai konstituen politik melihat track record ( sepak terjang ) si calon. Kita jangan memandang kandidat yang akan kita pilih dari segi materialnya saja dan harus membuang jauh-jauh politik sempit yang mengatasnamakan satu marga, satu kampung maupun karena politik sanak saudara tetapi lebih kepada persoalan bagaimana kita melihat si calon benar-benar tulus dan berkualitas dalam membangun bangsa ini. Alangkah ironisnya apabila kita menjual hati nurani maupun suara kita kepada orang yang salah. Akibatnya yang menanggung resikonya adalah kita sendiri. Bisa dikatakan siapa yang menjual hati nuraninya maupun suaranya sama saja dengan menjual suara Tuhan dan bangsa ini kepada orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Dalam melihat kewajaran sosial politik masyarakat yang akan memanas menjelang Pemilu 2009 sebagai konsekuensi logis sebagai penganut paham demokrasi hendaknyalah dalam mengimplementasikan proses demokrasi ini tetap mengedepankan etika dan hukum yang berlaku. Menang dan kalah dalam pertarungan kekuasaan maupun kepemimpinan harus diterima dengan lapang dada dan bersikap ksatria sehingga tindakan anarkis dan konflik horizontal tidak terjadi ditengah-tengah masyarakat yang cinta damai ini. Kita lihat bagaimana sikap John Mcain – kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Republik yang kalah dalam pemilihan presiden. Ketika KPU Amerika Serikat mengumumkan kemenangan Barak Obama sebagai presiden Amerika Serikat yang terpilih, John Mcain langsung berpidato dihadapan para pendukungnya seraya mengakui kemenangan Barak Obama dan mengajak seluruh pendukungnya untuk mendukung presiden terpilih. Belum lagi ketika Barak Obama terpilih sebagai presiden Amerika Serikat yang Ke-44, dengan kerendahan hati dia mengajak kandidat yang kalah untuk bekerja sama dalam membangun Amerika Serikat. Dua ksatria yang dimiliki Amerika Serikat ini telah memberikan teladan kepada dunia bahwa demokrasi yang mereka miliki dapat menjadi demokrasi percontohan. Hendaknyalah para elit poltik yang bertarung pada pemilu nanti dapat bercermin dari ketokohan John Mcain dan Barak Obama ini. Bukankah para elit politik harus menghormati suara rakyat karena dengan menghormati suara rakyat sama saja dengan menghormati suara Tuhan. Membangun Indonesia bukan harus menjadi anggota legislatif atau menjadi presiden/wakil presiden saja. Banyak pekerjaan yang dapat kita lakukan untuk membangun negeri ini asalkan kepentingan rakyat tetap menjadi corong terdepan.
Penutup
Sebelum membuat pilihan hendaknyalah 3M yakni Melihat track record (sepak terjang) sicalon sampai keakar-akarnya, Memilih pada tanggal yang ditentukan atau tidak golput dan Mendoakan pilihan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa harus kita lakukan demi kemajuan bangsa ini. Mari kita berikan suara kita bagi kandidat yang benar-benar mampu mengemban amanah rakyat dan mampu mengeluarkan negeri ini keluar dari keterbelakangan dan keterburukan
Jadi, selamat menggunakan hati nurani dan suaranya pada Pemilu 2009 ini. Pilihan kita menentukan kemajuan bangsa.

Pengalaman Organisasi dan Seminar


Pengalaman Organisasi dan Seminar
Frofidierman Sonik Purba
Alamat e-mail dan Alamat Friendster : frofidiermanpurba@yahoo.com
Nama Blogger : Frofidierman Sonik Purba
Pengalaman Organisasi
1. Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Kimia FMIPA USU Periode 2005-2006
2. Ketua Umum Kelompok Aspirasi Mahasiswa FAjAR ( KAM FAjAR ) Universitas Sumatera Utara Periode 2005-2006
3. Sekretaris Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ( GMNI )Komisariat FMIPA USU Cabang Kota Medan Periode 2005-2006
4. Kordinator Divisi Infokom Ikatan Mahasiswa Simalungun Universitas Sumatera Utara ( IMAS-USU ) Periode 2004-2005
5. Komisaris Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ( GMNI ) Komisariat FMIPA USU Cabang Kota Medan Periode 2008-2009
Seminar Yang Pernah Diikuti
1. Seminar “ Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung Antara Polemik dan Solusi “ yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik (IMAJIP) FISIP USU pada tanggal 21 April 2005 di Laboratorium Pariwisata Universitas Sumatera Utara Medan
2. Seminar “ Pengolahan Pulp pada Industri PT.Toba Pulp Lestrai Tbk “ yang diselenggarakan oleh Panitia Kunjungan Industri Ikatan Mahasiswa Kimia (IMK) FMIPA USU pada tanggal 1 Juni 2006 di Porsea Kabupaten Toba Samosir
3. Seminar “ Status Industri Minyak Kelapa Sawit dan Produk Hilir di Malaysia” dengan Keynote Speaker Prof. Datin Dr. Zuriati Zakaria dari University Kebangsaan Malaysia (UKM) yang diselenggarakan oleh Technological And Professional Skills Development Sector Project (ADB LOAN No. 1792 – INO) Departemen Kimia FMIPA – USU
4. Seminar Hukum “ Efektivitas Implementasi Kebijakan Otonomi Daerah Di Propinsi Sumatera Utara (Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004 Tentang Otonomi Daerah ) yang diselenggarkan oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ( GMNI ) Komisariat Fakultas Hukum USU Pada tanggal 13 Mei 2006 di Royal Room Hotel Danau Toba International Medan
5. Seminar "Traning Anti Korupsi" yang diselenggarakan oleh Simalungun Corruption Watch (SCW)di hotel Parbina Pematang Siantar pada tanggal 21-23 April 2003
6. Seminar " Bahaya Narkoba dan HIV/AIDS" yang diselenggarakan oleh dinas kesehatan kab.Simalungun bekerja dengan Kapolres Simalungun pada tanggal 5 Maret 2002 di Aula SMU PLUS Pem.Raya
7. Seminar " Program Ikatan Mahasiswa Sosial Demokrat-USU" yang dilaksanakan oleh partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD) di sekretariat DPD PBSD Kotamadya Medan pada tanggal 13 Maret 2003
8. Seminar "Motivation and Entrepreneurship" yang dilaksanakan oleh Campus Comunity Telkomsel pada tanggal 20 November 2008 di Pardede Hall Medan.
9. Seminar " Peran Pemuda Kristen Dalam Menyikapi Persoalan Bangsa " yang dilaksanakan oleh Kelompok Diskusi dan Aksi Sosial (KDAS)pada tanggal 8 November 2008 di Gedung Sola Gratia Medan.

Jumat, 06 Maret 2009

Gadis Diantara Waktu


Gadis Diantara Waktu


Waktu Kembali Bersenandung
Mencari Jawaban Atas Sebuah Bisikan Hati
Waktu Kembali Menguji
Kekuatan Hati Diantara Bayang-Bayang Semu
Kapan dan Dimana ?

Waktu Kembali Merindu
Akan Pancaran Seorang Gadis
Gadis Yang Telah Memberikan Secercak Warna
Gadis Yang Melalui Suaranya Memberikan Inspirasi
Gadis Yang Dalam Ketulusan Kata-Katanya Memberikan Nilai
Akh…Ilusikah ini Atau Perjuangan Untuk Menemukannya ?

Waktu Adakah Kesempatan?
Merangkul Bayangan Ini
Bercengkrama Diantara Suka dan Duka

Gadis Dengarkanlah Rindu ini Diantara Detak Jantung Angin Kehidupan
Gadis Bisikkan Sepenggal Kata Diantara Pesona Matahari dan Bintang
Biarkan Penghuni Semesta Berkata : Inilah Saatnya

Gadis
Tau Nggak Siapa Gadis Itu ?
Pergilah Kedepan Kaca
Maka Kamu Akan Menemukannya Disana

Created By : Frofidierman Sonik Purba Dalam Pencarian

Kamis, 05 Maret 2009

Perempuan, Begitu Misteriuskah ?


Perempuan, Begitu Misteriuskah ?
Oleh:
Frofidierman Sonik Purba

Berbicara masalah perempuan, maka kita langsung teringat tentang permasalahan emansipasi, hasrat, lesbian, dan feminimisme yang mengundang logika yang cukup a lot untuk membicarakannya.
Banyak kata-kata yang dapat menunjukkan identitas seorang perempuan seperti gadis, ibu, nenek dll yang pemakaiannya tergantung fungsi dan kondisi. Gadis biasanya menunjukkan perempuan baik perawan maupun yang sudah tidak perawan lagi asalkan belum menjalin ikatan pernikahan. Ibu menunjukkan perempuan yang sudah berumah tangga dan sudah punya anak sedangkan nenek menunjukkan perempuan yang sudah lanjut usia dan sudah punya cucu.
Dalam membongkar dan menggambarkan kemisteriusan dan rahasia perempuan banyak kita temukan dalam bentuk puisi, novel, lukisan, lagu maupun dalam bentuk karya sastra yang lain. Ada yang bersifat imajiner maupun bersifat nyata. Penulis pernah membaca sebuah puisi yang sangat menyentuh sekali yang latar belakang pembuatannya diakibatkan kekecewaan terhadap seorang perempuan ( baca:kekasih) yang telah menyakiti hati si pembuat puisi sampai-sampai si pembuat puisi mengalami depresi berat. Tapi, itulah kehebatan dan kelemahan perempuan yang menyimpan sejuta kemisteriusan akan cinta, kelembutan, derita maupun kemunafikan.
Perempuan yang dalam tulisan ini hanya dibatasi pada kelas kekasih mengundang protes dan pandangan argumentatif apabila kaum Adam mengkelompokkannya sebagai manusia kelas kedua. Sejarah bisa mencatat bagaimana pahlawan-pahlawan perempuan Indonesia seperti Raden Ajeng Kartini protes terhadap kehidupan, peradaban dan masa kejayaan kelaki-lakian. Gerakan emansipasi persamaan gender yang digagasnya menuntut laki-laki dan perempuan sama kelas dan haknya. Yang membedakannya hanya dari segi hasrat dan alat-alat biologis. Diera zaman Raden Ajeng Kartini ini, perempuan hanya dijadikan boneka hiburan laki-laki. Pekerjaan dan ruang gerak perempuan hanya dibatasi pada masalah dapur rumah tangga dan masalah ranjang panas saja.
Kembali ke batasan perempuan sebagai kekasih maka kita sering mengilustrasikan prempuan itu seperti bunga ditepi jurang yang harus dihinggapi dan madunya dihisap kumbang sebagai laki-laki. Ada juga yang mengibaratkan perempuan seperti ikan dimana untuk mendapatkannya pemancing (baca:laki-laki) awalnya harus rela berkorban untuk membeli umpan dan pancingan yang terbaik demi meraih ikan yang diinginkan. Setelah ikannya (baca:perempuan) tertangkap maka urusan keeksistensian atau keberadaan ikan tersebut terserah pemancing mau diapakan. Ada yang memeliharanya dengan baik agar dapat berproduksi lagi. Ada yang menggorengnya untuk keperluan perut. Ada yang menjualnya bahkan ada juga yang mencampakkannya karena hanya dijadikan hiburan saja. Kalau kita berasumsi secara logika terbalik maukah atau bisakah perempuan dikategorikan kumbang atau pemancing dan laki-laki yang menjadi bunga dan ikannya seperti ilustrasi diatas ?.
Apapun ilustrasi, pemikiran, gerakan akan suatu legitimasi dan eksistensi perempuan satu hal yang pasti persoalan keindahan dan kebahagiaan hidup kaum Adam tidak akan berjalan secara harmoni tanpa sentuhan dan perhatian kaum Hawa. Pertama : Alangkah indahnya kalau pergulatan cinta terjadi diantara kaum Adam dan kaum Hawa. Kita bisa lihat dalam proses membuat cinta menjadi komunikasi dan komunikasi menjadi hubungan yang bahasa gaulnya dinamakan tahap PDKT dimana pihak laki-laki dituntut harus lebih bersabar dan mau berkorban lebih banyak demi meraih “hadiah” dari perempuan yakni cinta dan aroma tubuhnya bahkan bisa juga mendapat “hadiah grandprise” yakni sex. Kedua : Kita tidak bisa membayangkan betapa dahsyatnya dan nikmatnya apabila pertarungan hasrat terjadi diatas ranjang panas antara kaum Adam dan kaum Hawa dengan tidak menafikan pertarungan hasrat antara sejenis seperti kelompok GAY dan Kelompok Lesbian. Menang dan kalah tidak jadi permasalahan asalkan keduanya sama-sama memiliki jiwa ksatria dan merasakan secara bersama-sama kepuasan tingkat tinggi yang satu ini.
Kesimpulan
Ada dua kemisteriusan perempuan yang harus dihancurkan demi menjebol hatinya yakni pertama : perempuan jangan dibuat merasa istimewa dan spesial dimata laki-laki. Penulis sering mengalami kejadian apabila perempuan terlalu sering disanjung dan diistimewakan pihak laki-laki maka akan menaikkan nilai bargainingnya (nilai jualnya) sehingga perempuan tersebut akan bersifat over selektif (terlalu memilih) terhadap para lelaki yang memburunya. Kita sering lihat bagaimana segerombolan lelaki yang secara beramai-ramai mendekati perempuan, memujinya dan mengeluarkan jurus gombalan paling dahsyat yang sering disimbolkan dengan ungkapan: pssst…stttt cewek, mana dek, Kamu cantik kali dek sehingga membuat segerombolan lelaki tersebut bagai mahluk hidup yang paling murah persisnya laki-laki murahan. Akibatnya sampai perempuan akan berkata didepan kaca” Aku cantik juga ya. Banyak yang mengidolakan aku. Ah…Aku jual mahal aja deh dan harus selektif.Mmm..mmm Enaknya jadi perempuan”.
Kedua : Laki-laki harus menaikkan nilai jualnya.
Di era budaya ketimuran yang kita miliki ada suatau doktrin percintaan yang menyatakan harus laki-laki yang lebih dulu mengalah untuk mengungkapka perasaannya. Contoh kasusnya seperti ketika pada tahap PDKT Laki-laki dituntut lebih agresif dalam memberikan perhatian dan lebih sabar dalam menghadapi tingkah laku perempuan sehingga membuat pihak perempuan merasa manja dan istimewa. Budaya ini harus direvolusi kalau perempuan menginginkan kesamaan gender dalam segala bidang baik bidang politik, ekonomi, social budaya maupun dalam urusan perasaan bahkan sex.
Sudah saatnya laki-laki juga menuntut hak kepada perempuan agar mau untuk mengungkapkan perasaannya lebih dahulu kepada laki-laki dan tidak menunggu kejantanan laki-laki untuk memulai cerita cinta. Perempuan jangan munafik dan melakukan apologia (pembenaran) budaya agar laki-laki yang lebih dulu mengungkapkan perasaaanya. Kalau perempuan lebih dahulu jatuh cinta kepada laki-laki, perempuan harus berani PDKT kepada laki-laki. Ungkapkan aja dan jangan takut harga dirinya jatuh dimata laki-laki sehingga balance (keseimbangan) gender dapat terjadi antara laki-laki dan perempuan dan kemisteriusan perempuan dapat dipecahkan “keperawanannya” menjadi sebuah realita.
Deklarasi Pernyataan Kesamaan Gender Dari Kaum Adam Dari Penjuru Dunia
Wahai….perempuan-perempuan di penjuru dunia
Ungkapkan aja perasaanmu kepada kami lebih dahulu tanpa menunggu kejantanan kami dalam memulai cerita cinta.
Jantanlah dalam mengungkapkan perasaanmu lebih dahulu. Jangan takut harga dirimu rendah dimata kami. Kalau cintamu tulus, kami siap menerimamu.
Wahai…perempuan-perempuan di penjuru dunia
Kami menunggu “Kejantananmu”
Hidup Laki-laki…..!
Hidup Perempuan…!
Hidup Kesamaan Gender…..!

Selasa, 24 Februari 2009

Pemuda Kristen Sebagai Garam dan Terang Bangsa


Pemuda Kristen Sebagai Garam dan Terang Bangsa
( Refleksi Kritis Tentang Kehidupan Pemuda Kristen Diera Kekinian )
Oleh :

FROFIDIERMAN SONIK PURBA

Berbicara tentang sejarah bangsa Indonesia maka tidak akan bisa terlepas dari konteks kepemudaan Indonesia. Hal ini dapat kita lihat dari peran dan fungsi pemuda yang sangat signifikan terhadap perjalanan bangsa ini. Pemuda yang merupakan salah satu elemen kekuatan bangsa telah mampu memberikan warna tersendiri didalam membangun bangsa ini.
Ditiap momentum sejarah bangsa ini, pemuda sering kali menjadi motor penggerak didalam menciptakan suatu perubahan yang progresif-revolusioner untuk mengeluarkan bangsa ini dari kemelaratan politik, sosial maupun kemelaratan moral bangsa. Sebelum Indonesia merdeka, pemuda sangat berperan sekali didalam membebaskan bangsa ini dari hegemoni penjajah baik yang dilakukan dengan perjuangan secara fisik seperti perang terbuka maupun perjuangan non fisik seperti melaksanakan pendidikan politik rakyat melalui organisasi kepemudaan maupun lobi-lobi internasional untuk memperoleh pengakuan kedaulatan negeri ini. Salah satu karya pemuda-pemuda Indonesia yang sampai sekarang menjadi spirit pemersatu bangsa adalah lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang sangat bersejarah ini sebagai kekuatan baru atau komitmen sakral untuk menyatukan elemen-elemen pemuda yang berasal dari suku, agama maupun ras yang berbeda dari Sabang sampai Merauke didalam cengkaraman Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yakni berbangsa ,berbahasa dan bertanah air satu. Disamping itu, salah satu peristiwa sejarah monumental yang menceritakan peran pemuda adalah ketika Indonesia akan memproklamirkan kemerdekaannya. Ketika pemuda yang dalam sejarah bangsa dinamakan golongan muda telah mengetahui Jepang telah menyerah kepada Sekutu pada Perang Pasifik (Perang Asia Timur Raya) tahun 1945, maka mereka pun memaksa Soekarno dan Muhammad Hatta yang dinamakan golongan tua untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dimana pada waktu itu pahlawan proklamator kita itu penuh dengan pertimbangan-pertimbangan untuk mendeklarasikan kemerdekaan bangsa ini, tetapi dengan semangat perjuangan yang berapi-api pemuda pun berhasil meyakinkan The founding father kita itu walaupun dilakukan dengan penculikan tokoh golongan tua tersebut atau yang sering disebut dengan peristiwa Rengasdengklok. Melihat hal tersebut maka dapat kita katakan bahwa pemudalah sebagai aktor intelektual dibalik kemerdekaan bangsa ini.
Diera kekinian ini, dimana masih banyak sekali kita temukan permasalahan-permasalahan bangsa, adakah peran pemuda khususnya pemuda Kristen masih sangat diperlukan untuk melepaskan bangsa ini dari penjajahan kemiskinan, ketidakadilan dan disintegrasi bangsa yang sangat memprihatinkan ?. Kalau pada era sebelum kemerdekaan musuh bangsa ini adalah penjajah seperti Belanda dan Jepang, tetapi diera kekinian musuh kita adalah berasal dari bangsa kita sendiri.
Kondisi realita bangsa saat ini khususnya dikalangan kaum muda Kristen telah mengalami pergeseran pola pikir dan budaya. Banyak dikalangan pemuda Kristen tidak lagi memahami dan menjalankan cita-cita perjuangan para Pahlawan yang telah rela mati demi terciptanya bangsa Indonesia yang merdeka, adil dan, makmur. Banyak pemuda Kristen sekarang yang hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri dan terjebak dalam lingkaran hedonisme semu yang membuat semakin terburuknya kehidupan generasi penerus bangsa. Pemuda Kristen banyak yang terjebak dalam lingkaran penyakit zaman abad 21 ini seperti Narkoba, Judi dan HIV/AIDS yang telah memporakporandakan mental dan karakter kaum muda sebagai insan penerus bangsa.
Menjadi Garam dan Terang Bangsa dengan Prestasi
Delapan puluh tahun sudah Hari Sumpah Pemuda 1928 kita peringati. Adakah momen bersejarah tersebut hanya dijadikan peringatan serimonial saja atau dijadikan bahan refleksi untuk berbuat dan berkarya bagi kemajuan negeri ini. Kalau kita dapat memutar sejarah kembali tentunya kita bisa melihat bahwa tiga butir Sumpah Pemuda 1928 yang dicetuskan para pemuda Indonesia bukanlah rumus kode buntut yang hanya berisi hayalan belaka tetapi spirit kita selaku kaum muda Kristen untuk membangun bangsa dengan prestasi dan menyatukan segala perbedaan didalam kebersamaan. Apapun peran yang sedang kita emban baik sebagai mahasiswa, pengusaha, teknorat, atlet, pemain sepak bola politisi, model , artis, penyanyi maupun petani sekalipun hendaknyalah kita tetap menjungjung tinggi nilai-nilai nasionalisme bangsa dan memberikan prestasi di bidang kita masing-masing untuk kemajuan bangsa ini. Soekarno pernah berkata dengan lantang “ Berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncang dunia “. Sebagai pemuda Kristen sudah sepantasnyalah kita harus dapat menjadi Garam dan Terang ditengah-tengah bangsa ini. Menjadi garam dan terang bangsa hanya dapat kita buktikan dengan prestasi. Prestasi yang harus kita raih hendaknya mengandung nilai-nilai kebangsaan seperti
Pertama : Berdaya saing
Sebagai pemuda Kristen kita harus mampu bersaing diera globalisasi modern ini. Kita tidak boleh kalah bertarung prestasi baik dari segi Ipteknya, olahraganya atau bahkan kemajuan-kemajuan zaman yang lain.
Kedua : Kemandirian
Kita harus berbenah diri dengan mengandalkan kemandirian yang dapat kita lakukan dengan kewirausahaan. Sumber daya alam kita yang kaya dapat kita jadikan komoditi maupun produk untuk kelangsungan hidup kita dengan tidak hanya mengandalkan pada produk-produk kapitalis. Kita bisa maju dan sukses dari hal-hal yang kecil misalnya menjadi pengusaha keripik ubi atau menjadi pengusaha jamu atau berwirausaha dengan bentuk usaha yang lain asalkan dikremas dengan manajemen yang baik dan keprofesionalan profesi.
Kita tidak boleh malu maupun malas. Kita harus terus belajar dan terus belajar untuk berinovasi secara kreatif diera persaingan global ini.
Ketiga : Berkarakter dan berkebudayaan
Bangsa kita adalah bangsa yang menjungjung tinggi nilai-nilai moralitas. Hal ini harus tetap kita jaga. Keanekaragaman suku, budaya maupun agama hendaknya dapat membentuk kepribadian pemuda yang berkarakter. Kita tidak boleh terkontaminasi dari budaya asing yang negatif yang tidak sesuai dengan nilai-nilai ketimuran kita. Kita lihat bagaimana informasi maupun teknologi yang destruktif dapat membuat anak bangsa jatuh kedalam kehancuran. Satu hal yang pasti, kita sebagai pemuda Kristen harus tetap mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar kiranya kita terlepas dari belenggu penyakit zaman abad 21 seperti Narkoba, Judi dan HIV/AIDS yang sedang mendunia ini.
Kepemimpinan ditengah-tengah Pemuda
Ditengah-tengah permasalahan bangsa yang mengakar ini hendaknyalah kaum muda bersiap dan dipersiapkan untuk memimpin bangsa ini keluar dari keterburukan maupun keterbelakangan. Kita lihat bagaimana Alkitab telah mencatat tokoh-tokoh muda yang telah mampu memimpin bangsa untuk keluar dari ketidakberdayaan. Kita lihat bagaimana Raja Salomo yang walaupun masih muda tetapi terkenal dengan kebijaksanaanya dalam memimpin bangsa Israel sehingga pada waktu itu bangsa Israel menjadi bangsa yang kuat dan disegani bangsa-bangsa lain. Ketokohan dan kepemimpinan Daniel yang terkenal dengan keidealisannya dalam mempertahankan Imannya kepada Tuhan Allah walaupun dia harus dicampakkan ke dalam Gua Singa. Soekarno diusianya yang muda telah berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia walaupun dia harus ditangkap, diasingkan bahkan dipenjara tetapi semangat dan keberaniannya telah mengalahkan hegemoni kekuasaan penjajah. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh muda yang dapat kita teladani dalam hidup kita untuk membangun bangsa ini menjadi bangsa yang berintegritas dan kuat.
Yang menjadi pertanyaan adalah mampukah pemuda Kristen menjadi pemimpin bangsa ini ?.
Untuk menjawab hal tersebut ada beberapa hal yang patut kita perhatikan?
Pertama : Pengalaman. Sering kali kaum muda dikatakan kurang berpengalaman apabila diperhadapkan pada persoalan kepemimpinan. Padahal untuk membangun bangsa ini tidaklah usia hidup yang menjadi tolak ukur tetapi lebih kepada persoalan kemauan, jiwa dan politik will yang baik untuk melepaskan bangsa ini dari keterbelakangan dan keterburukan. Banyak para elit politik dari kaum tua yang telah banyak makan asam garam dipercaturan politik tetapi banyak pula yang terjebak dalam permasalahan hukum. KKN, Penjualan asset negara, Illegal Loging dan bentuk pelanggaran hukum yang lain yang telah dilakukan telah membuat bangsa ini jatuh dalam keterburukan.
Kedua : Perlawanan. Banyak golongan tua yang masih mempertahankan kekuasaan dengan tidak memberikan kepada kaum muda kesempatan untuk memimpin. Seperti kita lihat sekarang banyak golongan tua yang masih mendominasi bursa penCalegan (Calon Legislatif) untuk Pemilu 2009 di tiap-tiap Partai Politik Nasional (Parnas) kita. Banyak kaum tua menganggap kaum muda lemah dalam persoalan kebijaksanaan. Oleh karena itu selaku pemuda Kristen harus arif dan bijaksana dalam menyikapi persoalan bangsa. Kita jangan terjebak kedalam politik praktis kotor yang dapat membuat perpecahan dikalangan pemuda yang ujung-ujungnya dapat menstimulasi maupun menciptakan konflik dan perpecahan ditengah-tengah bumi pertiwi ini. Pemuda Kristen harus mampu menjungjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dengan pemuda-pemuda yang berasal dari suku, ras maupun agama yang berbeda ketika ada perbedaan pendapat dalam hal pengambilan keputusan ditiap aspek kehidupan berbangsa dan bertanah air. Kita memang beda tetapi bukan untuk dibeda-bedakan.
Ketiga : Ketika kaum muda berkuasa. Kaum muda sering diperhadapkan kepada persoalan kecakapan emosi dan kebijaksanaan ketika akan memimpin bangsa ini. Oleh karena alangkah lebih idealnya apabila jiwa semangat perjuangan kaum muda yang berapi-api dipadukan dengan kebijaksanaan yang dimiliki kaum tua.
Penutup
Secara de jure bangsa kita telah merdeka, tetapi secara de fakto bangsa kita belum merdeka dari penjajahan kemiskinan, ketidakadilan, KKN yang merajalela bahkan disintegrasi bangsa. Di 80 Tahun hari Sumpah Pemuda ini, marilah kita putra-putri pertiwi bangun dan bergerak maju memberikan kado terindah bagi bangsa ini dengan menunjukkan prestasi kita. Karena hanya melalui prestasilah kita dapat mengguncang dunia. Semoga !!!

Penulis adalah Pemuda GKPS. Aktivis GmnI dan IMAS-USU
Alamat : Jln Seruling No 30 b Pasar I Padang Bulan Medan
No HP : 081 260 118 003
e-mail : frofidiermanpurba@yahoo.com
Tulisan ini mendapat Peringkat V pada Lomba Karya Tulis Yang Diadakan Kelompok Diskusi dan Aksi Sosial (KDAS) Pada Tanggal 8 November 2008

GmnI Komisariat FMIPA USU Menuju Paradigma Baru


GmnI Komisariat FMIPA USU Menuju Paradigma Baru

( Perubahan ditangan Pengurus Komisariat GmnI FMIPA USU Periode 2008-2009 yang baru dilantik oleh DPC GmnI Kota Medan , Akankah ? )


Pada tanggal 26 Juli 2008 Pengurus Komisariat GmnI FMIPA USU periode 2008-2009 telah dilantik oleh Dewan Pimpinan Cabang Kota Medan untuk menjalankan roda keorganisasian satu tahun kedepan. Kepemimpinan GmnI FMIPA USU ini tentunya dihasilkan melalui mekanisme demokrasi yakni Rapat komisariat (Rakom ) sebagai pengejawantahan amanah konstitusi yang harus dijalankan. Didalam melaksanakan proses-proses teknis Rapat Komisariat yang telah dilaksanakan pada tanggal 7 Juni 2008 di Jln.Bioteknologi Kampus FMIPA USU tentunya banyak sekali ditemukan perbedaan-perbedaaan konsep, pendapat maupun pemikiran yang tujuan sebenarnya bagaimana membuat perubahan yang signifikan ditubuh GmnI FMIPA USU ini. Seyogianya kebiasaan dalam setiap pesta demokrasi, Rapat Komisariat GmnI FMIPA USU pun tidak terlepas dalam pertarungan-pertarungan dinamika yang berlangsung cukup a lot.

Jurnal Pelaksanaan Rapat Komisariat ( Rakom ) GmnI FMIPA USU

Berkisar pukul 14.00 WIB, dikampus FMIPA USU melalui pekik perjuangan resmilah Rapat Komisariat dibuka oleh Bung Rivondi sebagai perwakilan dari DPC GmnI Kota medan. Untuk pembahasan Jadwal acara, tata tertib persidangan dan pemilihan pimpinan sidang tetap masih berlangsung cukup kondusif tanpa banyak dihujani dengan interupsi maupun pertanyaan-pertanyaan.
Berkisar pukul 16.00 wib, terpilihlah bung Jhon.L. Simanjuttak dan Bung Paska Erianto Saragih sebagai pimpinan sidang dalam memimpin agenda acara tentang pembahasan laporan pertanggungjawaban pengurus komisariat periode 2007-2008. Pada agenda itu akhirnya LPJ pengurus komisariat GmnI FMIPA USU diterima dengan bulat oleh peserta Rakom.
Berkisar pukul 17.00 wib, dua orang kandidat komisaris yakni bung Frofidierman Sonik Purba dan Bung Jhon.L.Simanjuttak maju dalam memperebutkan pucuk pimpinan tertinggi di komisariat untuk menahkodai GmnI FMIPA USU ini ditengah-tengah tantangan ombak perjuangan yang sedang terjadi.Sebelum mekanisme voting dilakukan kedua kandidat diperbolehkan untuk menjalankan mekanisme lobi apakah ada yang mengalah atau maju terus. Akhirnya kedua kandidat sepakat untuk bersaing maju terus karena kekuatan libido kedua kandidat untuk menjadi pemimpin sangat besar. Berkisar kira-kira 10 menit tahap pemilihan sudah selesai dan akhirnya melalui pemungutan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil akhirnya terpilihlah bung Frofidierman Sonik Purba sebagai komisaris GmnI FMIPA USU ini untuk satu tahun kedepan. Dalam kata sambutannya Bung Frofidierman Sonik Purba menyatakan bahwa kemenangannya dalam memperebutkan pucuk pimpinan di komisariat bukanlah kemenangannya sendiri melainkan kemenangan GmnI Komisariat FMIPA USU secara menyeluruh. Dia juga mengatakan bahwa dia akan menjalankan visi-misinya dalam membuat perubahan di tubuh GmnI Komisariat FMIPA USU kearah yang lebih baik.
Puncak dinamika rapat terjadi ketika Bung Rivondi Brahmana perwakilan DPC GmnI Kota Medan akan memberikan kata sambutan pada acara penutupan Rakom tiba-tiba bung Jhon.L. Simanjuttak melakukan interupsi mempertanyakan eksistensi DPC GmnI Kota Medan dan Sikap politik GmnI Komisariat FMIPA USU. Jhon.L. Simanjuttak berpendapat bahwa GmnI Komisariat FMIPA USU tidak pernah mendukung DPC GmnI Kota Medan hasil Konfercab kemarin. Pada saat bersamaan dia juga mengatakan bahwa tidak pernah GmnI Komisariat FMIPA USU merekomendasikan anggotanya untuk duduk dikepengurusan DPC GmnI Kota Medan tapi kenyataanya sarinah Aidani Harahap ditarik ke DPC dan dia menyatakan bahwa sarinah Aidani Harahap dan DPC GmnI Kota Medan telah mengkangkangi wibawa dan kebijakan politik GmnI komisariat FMIPA USU. Pada saat itu juga bung Jhon.L. Simanjuttak menyatakan agar GmnI Komisariat FMIPA USU menarik sarinah Aidani Harahap dari kepengurusan DPC GmnI Kota Medan atau sarinah Aidani akan direkomendasikan untuk dipecat dari keanggotaan keluarga besar GmnI. Akhirnya suasana Rakom menjadi panas. Sarinah Aidani Harahap pun melakukan protes keras terhadap pernyataan bung Jhon.L. Simanjuttak dengan melakukan perang argumentasi untuk mempertahankan eksistensinya di DPC GmnI Kota Medan. Pada saat bersamaan, sarinah Aidani Harahap pun mempertanyakan kedudukan Jhon.L. Simanjuttak sebagai Menteri di Pemerintahaan Mahasiswa dimana Fritjen Harianja sebagai Presiden Senat mahasiswa USU menurut versi KPU USU. Sarinah Aidani Harahap menyatakan bahwa GmnI FMIPA USU pun tidak pernah merekomendasikan Bung Jhon.L. Simanjuttak untuk duduk sebagai menteri. Dia juga menyatakan kalau dirinya dikenakan sanksi oleh GmnI Komisariat FMIPA USU maka sanksi tersebut harus berlaku juga untuk bung Jhon.L. Simanjuutak. Bung Jhon.L. Simanjuttak pun melakukan pembenaran kalau dirinya direkomendasikan dari organisasi lain jadi tidak menyalahi kebijakan politik GmnI FMIPA USU terhadap Pemira USU. Perlu diketahui bahwa kebijakan politik GmnI komisariat FMIPA USU tidak mendukung Fritjen Harianja Sebagai Presiden Mahasiswa USU versi KPU USU maupun Diki Altriki Sebagai Presiden Mahasiswa Versi MMU. Ketika berita ini dimuat, Pemira USU terjadi konflik dimana Diki Altrika yang memperoleh suara terbanyak pada Pemira USU melakukan kecurangan dan Fritjen Harianja sebagai pemenang nomor dua disahkan oleh KPU USU sebagai Presiden Mahasiswa USU menggantikan posisi Diki Altrika yang kemenangannya memperebutkan kursi kepresidenan didiskualifikasi oleh KPU USU. Pada Pemira USU tersebut, GmnI Sekawasan USU hanya mendukung Bung Hubertus Manao dari GmnI Komisariat Fakultas Hukum sebagai Calon Presma USU. GmnI Komisariat FMIPA USU berpendapat bahwa baik Fritjen Harianja maupun Diki Altrika sama-sama cacat hukum untuk duduk sebagai Presiden Mahasiswa. Yang anehnya ada pernyataan Jhon.L. Simanjuttak yang meminta apakah ada bukti secara tertulis kalau GmnI komisariat FMIPA USU mendukung Bung Hubertus Manao sebagai calon Presiden Mahasiswa USU. Mendengar pernyataan itu, bung Frofidierman Sonik Purba pun mengatakan bahwa kalau secara tertulis memang tidak pernah dikeluarkan oleh pengurus komisariat GmnI FMIPA USU, tetapi bung Frofidierman Sonik Purba mempertanyakan balik bahwa kenapa selama ini ketika GmnI sekawasan USU melakukan rapat untuk memenangkan bung Hubertus Manao bung Jhon.L. Simanjuttak selalu hadir dan tidak pernah mempersoalkan masalah dukungan secara tertulis terhadap bung Hubertus Manao . Dia juga menambahkan kalau bukti secara tertulis untuk mendukung bung Hubertus Manao tidak ada, berarti itu adalah kesalahan pengurus komisariat GmnI FMIPA USU dimana bung Jhon.L. Simanjuttak juga duduk dikepengurusan tepatnya sebagai wakombid bidang kaderisasi periode 2007-2008.
Akhirnya permasalahan sarinah Aidani Harahap maupun Bung Jhon.L. Simanjutak menjalar terhadap anggota GmnI FMIPA USU yang lain yakni bung Paska Erianto Saragih yang kebetulan juga duduk sebagai menterinya Fritjen Harianja. Malam semakin larut dan agenda rapat yang dibuat menyimpang dari jadwal sebenarnya. Emosi peserta Rakom makin memuncak, ditambah lagi dengan tidak adanya logistik Rakom untuk menahan serangan perut yang keroncongan dan tenggorokan yang kering. Pada saat kondisi demokrasi itu, tiba-tiba bung Rivondi Brahmana meminta Jhon.L. Simanjutak untuk keluar dari sidang yaitu untuk melakukan mekanisme lobi. Akhirnya setelah bung Rivondi Brahmana melakukan mekanisme lobi terhadap bung Jhon.L. Simanjuttak diambillah keputusan bahwa permasalahan ini akan diputuskan pada pembahasan Komisi Program, Komisi Politik, dan Komisi Organisasi yang disepakati oleh peserta sidang Rakom dibahas dikemudian hari.
Berpijak pada pepatah Kuno yang menyatakan bahwa masa lalu harus dilewatkan dan sekarang adalah bagaimana membuat masa depan yang lebih baik, GmnI Komisariat FMIPA USU pun mengadopsi pepatah kuno ini untuk membangun kembali wibawa organisasi ditengah –tengah derasnya tantangan perjuangan. Hal ini ditandai dengan terbentuknya susunan kepengurusan GmnI Komisariat FMIPA USU yang disusun oleh bung Frofidierman Sonik Purba sebagai Formatur Tunggal.

Jurnal Pelaksanaan Pelantikan Pengurus Komisariat GmnI FMIPA USU.

Berkisar pukul 14.00 WIB, diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars GmnI dan Mars Marhaen yang dipandu oleh pembawa acara pelantikan yaitu sarinah Desi Aruan, Bung Charles Ritonga sebagai Wakil Sekretaris DPC GmnI Kota Medan membacakan Surat Keputusan DPC GmnI Kota Medan tentang pengangkatan dan pengesahan pengurus komisariat GmnI FMIPA USU. Bung Charles Ritonga menyatakan bahwa proses pelantikan ini hendaknya dijadakan ajang konsolidasi kader di tingkatan komisariat GmnI FMIPA USU. Hal-hal yang selama ini bertentangan khususnya pada waktu Rakom kemarin hendaknya tidak dijadikan ajang perpecahan ditubuh GmnI komisariat FMIPA USU tetapi diambil hal-hal yang positifnya dalam membangun GmnI ini kedepan.
Pada acara pelantikan tersebut komisaris terpilih bung Frofidierman Sonik Purba memberikan kartu ucapan selamat kepada bung dan sarinah yang terpilih sebagai pengurus komisariat satu tahun kedepan. Kartu ucapan selamat ini hendaknya dijadikan motivasi dan simbol perjuangan dalam membangkitkan jiwa perjuangan,” Kata bung Frofidierman Sonik Purba pada kata sambutannya.
Pada acara pelantikan tersebut dihadiri oleh Pengurus Komisariat FISIP USU, Pengurus Komisariat Ekonomi USU, Pengurus Komisariat UHN ( Nomensen ) dan Pengurus Komisariat Universitas Darma Agung. Disamping itu juga dihadiri Wakabid Kajian Sarinah DPC GmnI Kota Medan sarinah Aidani Novita Harahap beserta beberapa anggota GmnI Sekawasan Kota Medan. Pada acara pelantikan tersebut, undangan disuguhi dengan makanan dan minuman yang dikonsep semurah mungkin tapi penuh dengan Gizi yang memadai.